Mengutamakan Menikah dengan Wanita yang Shâlihah
Oleh: Ummu ‘Abdillâh Al-Wâdi’iyyah hafizhahallâh
Berkata Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah (9/132): “Telah bercerita kepada kami Musaddad, ia berkata telah bercerita kepada kami Yahya dari ‘Ubaidillah, ia berkata telah berkata kepadaku Sa’id bin Abi Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ))
“Wanita itu dinikahi karena empat perkara: hartanya, kedudukannya yang mulia, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka utamakanlah wanita yang memiliki agama, niscaya kamu beruntung.”
Dan juga telah dikeluarkan oleh Muslim (2/1086).
Makna hadits ini; bahwa manusia dalam memilih dan mencari pasangan hidupnya terbagi menjadi empat golongan, yaitu:
1. Ada yang menginginkan calon istri yang memiliki harta dan kekayaan.
2. Ada yang mendambakan calon istri yang memiliki nasab (keturunan yang mulia).
3. Ada yang hanya mementingkan kecantikan saja.
4. Dan ada pula yang mendambakan seorang wanita yang berpegang kepada agamanya (shâlihah).
Memilih calon istri hanya karena hartanya jika tidak dihiasi dengan ketakwaan, bukan hal yang sepantasnya untuk dilakukan. Wanita yang memiliki harta pada dasarnya menginginkan kebebasan yang mutlak, ingin menjadikan suaminya sebagai budaknya serta berbangga diri di hadapan suami, bahkan (hal ini) dipraktekkannya juga. Mungkin juga lisannya mengatakan:
أَيُّهَا المنْكِحُ الثُّرَيَّا سُهَيْلا عَمْرَكَ اللهُ كَيْفَ يَلْتَقِيَانِ
هِيَ شَامِيَّةٌ إِذَا مَا اسْتَهَلَّتْ وَسُهَيْلٌ إِذَا اسْتَهَلَّ يَمَانِي
Wahai yang menikahkan Tsurayya dengan Suhail1
Demi Allah bagaimana mungkin keduanya bertemu
Tsurayya di utara ketika terbitnya
Sedangkan Suhail terbitnya di selatan
Demikianlah juga orang yang memiliki kemuliaan, apabilah suaminya tidak mulia seperti dirinya, ia akan merasa bangga atas suaminya. Dan hal ini akan terjadi bila wanita itu tidak dihiasi ketakwaan, bahkan setiap saat dia tentu akan menghitung-hitung kemuliaannya dan senantiasa berkata:
وَمَا هِنْدُ إِلا مُهْرَةً عَرَبِيَّةً سُلالَةَ أَفْرَاسٍ تَخَلَّلَهَا بَغْلُ
فَإِنْ وَلَدَتْ فَحْلا فَمِنْ طِيبِ أَصْلِهَا وَإِنْ وَلَدَتْ بَغْلا فَمِنْ ذَلِكَ البَغْلُ
Hindun itu tidak lain adalah seekor kuda ‘Arab
Keturunan kuda yang dipadukan dengan bighal
Kalau ia melahirkan seekor kuda
Maka itu merupakan kebaikan asalnya
Dan jika melahirkan seekor bighal maka dari bighal itu sendiri2
Demikian juga wanita yang mempunyai kecantikan, ia akan merasa bangga atas suaminya selama ia tidak menghiasi dirinya dengan ketakwaan. Adapun yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dinikahi adalah yang memiliki agama.
Dan ini bukan berarti seseorang laki-laki menghindar dari wanita yang memiliki harta, kecantikan dan kemuliaan. Akan tetapi yang dimaksud ialah agar dia jangan menjadikan hal-hal itu (kecantikan dan lainnya) sebagai tujuan satu-satunya lalu dia lebih mengutamakan mereka dari wanita yang memiliki agama. Adapun jika hal itu lengkap pada mereka ditambah dengan agama maka itu sangat baik.
Wanita yang memiliki agama adalah wanita yang memiliki ketakwaan, senantiasa menjaga apa yang diwajibkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sebagaimana Allah berfirman:
﴿فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ﴾
“Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisâ: 34)
Ia akan menjaga kehormatan dirinya untuk suaminya dan menjaga harta sang suaminya, tidak keluar kecuali dengan izinnya, serta mengenali hak-haknya dan tidak akan melanggarnya. Sebagaimana diketahui bahwasanya walaupun wanita itu memiliki agama, dia tetap tidaklah sempurna, karena wanita disifatkan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan dua sifat yaitu kurang akal dan agamnya. Akan tetapi hal ini tidak artinya bila dibandingkan dengan kebaikannya dan inilah yang sepatutnya tidak boleh seorang laki-laki itu berpaling darinya.
Demikian pula seorang wanita wajib baginya untuk memilih seorang calon suami yang shalih. Berapa banyak wanita shalihah akan tetapi ia tidak memilih calon suami yang shalih pula. Dia menikah dengan seorang laki-laki yang rendah akhlaknya lalu laki-laki itu menyeretnya kepada pemikirannya dan kepada keyakinannya. Bahkan sering pula seorang suami terpengaruh dengan pemikiran istrinya, sebagaimana yang terjadi pada ‘Imran bin Hiththan, yang menikahi putri pamannya, untuk mengentasnya dari pemikiran Khawarij akan tetapi istrinyalah yang menyeretnya kepada pemikirannya (Khawarij).
Maka wanita itu justru lebih rentan (untuk terseret pada pemikiran suaminya -ed), karena wanita itu umumnya gampang berubah dan berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lain. Kita memohon kepada Allah keteguhan di jalan-Nya. Sedangkan teman sangat berpengaruh terhadap teman dekatnya, oleh karena itu telah datang anjuran untuk memilih teman yang shalih. Dalam Shahihain dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah bersabda:
((مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيْس السَّوْءِ؛ كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ؛ فَحَامِلُ المِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ؛ وَنَافِخُ الكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ؛ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا مُنْتِنَة))
“Permisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang jelek, seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi, mungkin ia akan memberimu dan mungkin engkau akan terkena bau wangi darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin akan membakar pakaianmu dan mungkin juga kamu akan mendapatkan bau busuk darinya.”
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ))
“Seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya maka hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.”
Dan seorang penyair berkata:
عَنِ المَرْءِ لا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِينِهِ
فَكُلُّ قَرِينٍ بِالمُقَارَنِ يَقْتَدِي
Tentang seseorang janganlah ditanya tapi tanyalah siapa temannya
Setiap orang akan meniru (meneladani) temannya
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ahli surga:
“Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap, berkatalah salah seorang dari mereka: ‘Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman yang berkata: ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?’ Berkata pulalah ia: ‘Maukah kamu meninjau (temanku itu)?’ Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya di tengah-tengah neraka menyala-nyala.’” (Ash-Shaaffaat: 50-55)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَولُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ﴾
“Dan kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan adzab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.” (Fushshilat: 25)
Dan seorang wanita yang memiliki agama akan disenangi oleh orang yang memiliki agama, dan kebalikannya dengan sebaliknya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((الأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَا مِنْهَا اخْتَلَفَ))
“Para arwah itu ibarat tentara berterbangan (beriring-iringan) maka bila (ruh-ruh) itu saling mengenal niscaya akan saling berpadu (bersatu) dan bila saling bertentangan niscaya akan saling berselisih (berpisah).”
Dalam sebuah perumpamaan: “Dan semua yang sepertinya akan disukai.” Perumpamaan lainnya:
إن الطيور على أشكالها تقع فكل يرغب في مثله
“Sesungguhnya burung-burung yang sesuai dengan jenisnya akan hinggap bersama. Dan semua orang akan menyukai orang yang serupa (setipe) dengannya.”
Hadits lain yang menganjurkan menikahi wanita yang shalihah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (2/1090). Beliau rahimahullâh berkata: “Telah bercerita kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Namir Al-Hamdani, ia berkata telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yazid, ia berkata telah bercerita kepada kami Haiwah, ia berkata telah mengabarkan kepada kami Syarhabil bin Syarik bahwasanya dia telah mendengar Abu ‘Abdurrahman Al-Habli berbicara dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ))
“Dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.”
Footnote:
1 Tsurayya dan Suhail adalah nama sebagian bintang yang beredar, Tsurayya terbit di utara, sedangkan Suhail di selatan -ed.
2 Bighal adalah binatang sejenis kuda yang merupakan peranakan dari keledai, wallahu a’lam -ed.
(Sumber: نصيحتي للنساء قضاياتهم المرأة فتاوى للنساء karya Ummu ‘Abdillah Al-Wadi’iyyah. Edisi Indonesia “Wahai Muslimah Dengarlah Nasehatku“; hal 261-265. Penerjemah: Abu Yahya Apri, Rusdi Abu Salamah, & Hannan Hoesin Bahanan. Editor & Muraja’ah: Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib. Penerbit: Pustaka Sumayyah Pekalongan. Dicopy dari http://akhwat.web.id)



