Dari Air yang Terpancar

Oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

Wanita juga mengeluarkan mani. Hal demikian memang masih sulit dipahami oleh sebagian orang. Namun Islam justru memberikan gambaran yang lengkap akan hal ini.

Telah diketahui secara umum bahwa lelaki mengeluarkan air mani, baik dalam keadaan tidur (karena mimpi/ihtilam) ataupun terjaga, dengan syahwat ataupun tidak. Berbeda halnya dengan keadaan wanita, perkara demikian masih samar bagi sebagian orang. Padahal wanita juga mengeluarkan mani sebagaimana lelaki. Karena itu, ketika Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha istri Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ، هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ، إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu (untuk menerangkan) kebenaran1. Apakah wajib bagi wanita untuk mandi apabila ia ihtilam2?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Iya, bila ia melihat air (mani saat terjaga dari tidurnya, -pent.).”3

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kepada Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha bahwa wanita wajib mandi janabah bila ia bermimpi dan melihat air. Ini merupakan bukti yang jelas bahwa wanita pun mengeluarkan mani dan wajib mandi karena hal tersebut. Dalam hal ini kita dapat mengatakan “wanita itu saudara kandung (belahan) laki-laki”, seperti kata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ النِّسَاءَ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

“Sesungguhnya kaum wanita itu saudara kandung (bagian) dari kaum lelaki.”4

(شَقَائِقُ) kata Ibnul Atsir rahimahullaah adalah setara, semisal dalam akhlak dan tabiat, watak, serta pembawaan. Seakan-akan mereka (para wanita) bagian dari laki-laki, karena memang Hawa diciptakan dari Adam ‘alaihissalaam. شَقِيقُ الرَّجُلِ adalah saudara seayah dan seibu dari seseorang. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits, hal. 483)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullaah berkata setelah membawakan hadits Ummu Sulaim radhiyallaahu ‘anha: “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang menganggap mani wanita tidak muncul keluar, (menurut mereka, -pent.) diketahui si wanita keluar mani hanya dengan syahwat (namun tidak memancar keluar sebagaimana mani lelaki, -pent.).” (Fathul Bari, 1/505)

Hanya saja warna dan sifat mani wanita berbeda dengan mani lelaki, seperti keterangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

إِنَّ مَاءَ الرَّجُلِ غَلِيْظٌ أَبْيَضُ وَمَاءَ الْمَرْأَةِ رَقِيْقٌ أَصْفَرُ

“Sesungguhnya mani laki-laki itu kental putih sedangkan mani wanita encer berwarna keuning.”5

Al-Imam Al-Mawardi rahimahullaah berkata: “Ketahuilah, sifat mani laki-laki berbeda dengan mani wanita. Mani laki-laki (berwarna putih) kental, bau/aromanya seperti bau mayang pohon kurma. Sifat ini ada bila keadaan (si lelaki) normal dan sehat. Terkadang dapat berubah karena sakit yang diderita, karena faktor makanan, dan banyak melakukan jima’. Adapun mani wanita berwarna kuning encer, tidak mengandung aroma mayang pohon kurma.” (Al-Hawil Kabir, 1/214)

Al-Imam Nawawi rahimahullaah menambahkan bahwa mani itu keluar dengan memancar, curahan demi curahan, keluarnya dengan syahwat dan terasa nikmat saat keluarnya, diikuti dengan melemahnya badan. Aromanya seperti mayang pohon kurma yang hampir mirip dengan bau adonan. Jika kering baunya seperti bau telur. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 2/120)

Dengan demikian ada tiga kekhususan mani yang bisa dijadikan sandaran untuk membedakannya dari yang lain:

Pertama: Keluarnya dengan syahwat diikuti dengan melemahnya badan

Kedua: Aromanya seperti aroma mayang pohon kurma dan bau adonan

Ketiga: Keluarnya dengan memancar

Adapun mani wanita, terkadang memutih karena kuatnya. Dalam hal ini terdapat kekhususan, yakni saat keluarnya terasa nikmat dan diikuti dengan melemahnya syahwat. Ar-Rauyani berkata: “Aromanya seperti aroma mani laki-laki.”

Berdasarkan hal ini berarti mani wanita memiliki dua kekhususan6 yang bisa dikenali dengan keberadaan salah satunya. (Al-Majmu’, 2/160-161)

Anak Diciptakan dari Air Mani Kedua Orang tuanya

Adam ‘alaihissalaam, bapak segenap manusia, diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari tanah. Kemudian anak turunannya diciptakan dari mani, sebagaimana dikabarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Tanzil-Nya tentang perbuatan-Nya yang agung:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلاَلَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (mani).” (As-Sajdah: 7-8)

Dari mani inilah, Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan anak turunan Adam ‘alaihissalaam berkembang biak dan berketurunan. Generasi yang satu melahirkan generasi berikutnya, demikian seterusnya. Alah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلْيَنْظُرِ الإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ. خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ. يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan dada.” (Ath-Thariq: 5-7)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Ia diciptakan dari air yang terpancar, yakni air yang keluar dengan terpancar dari laki-laki dan wanita. Maka akan lahirlah anak dari keduanya dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: yang keluar dari antara tulang sulbi dan dada, yakni tulang sulbi laki-laki dan dada wanita.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1500)

Dengan demikian, janin itu terbentuk dari mani laki-laki dan mani wanita yang bercampur, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya:

إِنَّا خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari nuthfah amsyaj.” (Al-Insan: 2) (Taudhihul Ahkami min Bulughil Maram, 1/273)

Al-Imam Al-Baghawi rahimahullaah menerangkan: مِنْ نُطْفَةٍ yakni mani laki-laki dan mani wanita. Sedangkan أَمْشَاجٍ maknanya bercampur. Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan, Mujahid, dan Ar-Rubayi’ mengatakan: “Mani laki-laki dan mani wanita bercampur di dalam rahim, maka darinyalah terbentuk anak.” (Ma’alimut Tanzil, 1/395)

Asy-Syaikh ‘Athiyyah Salim rahimahullaah menukilkan tafsir Surat Al-Insan di atas dari gurunya Al-‘Allamah Asy-Syinqithi rahimahullâh dengan menyatakan: “Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang asal penciptaan manusia. Ia memiliki tahapan-tahapan dalam wujudnya, setelah berupa nuthfah (air mani) berubah menjadi ‘alaqah (segumpal darah) kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging), kemudian ia berubah menjadi makhluk yang lain. Semua itu terjadi dari sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

“Sesungguhnya telah Aku ciptakan engkau sebelum it, padahal engkau waktu itu belum ada sama sekali.” (Maryam: 9) (Tatimmah Adhwa’il Bayan, 8/648)

Dari air mani inilah, anak bisa serupa dengan ayah atau dengan ibunya. Sebagaimana ditegaskan Rasululah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ketika ada yang meragukan bahwa wanita juga dapat keluar mani:

نَعَمْ، فَمِنْ أَيْنَ يَكُوْنُ الشَّبَهُ؟

“Iya, lalu dari mana anak bisa serupa (dengan orang tuanya?”7

Atau meragukan wanita bisa mimpi senggama dan mengeluarkan mani (ihtilam), beliau nyatakan:

فَبِمَا يُشْبِهُهَا وَلَدُهَا؟

“Maka dengan apa anaknya bisa serupa dengan ibunya?”8

Setelah membawakan lafazh hadits: نَعَمْ، فَمِنْ أَيْنَ يَكُوْنُ الشَّبَهُ؟, Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullaah berkata: “Ini merupakan pertanyaan pengingkaran (istifham ingkari). Dan penetapannya adalah bahwa anak itu terkadang mirip dengan ayahnya, dan terkadang ada yang mirip dengan ibu dan keluarga ibunya. Mana di antara dua mani itu (mani ayah atau mani ibu) yang dominan, maka kemiripan anak kepada yang dominan.” (Subulus Salam, 1/133)

Bagaimana Anak Bisa Mirip dengan Orang tuanya?

Kita saksikan pada anak-anak yang dilahirkan oleh sepasang suami istri, ada yang mirip dengan ayahnya, ada yang mirip dengan ibunya. Atau tidak mirip dengan ayah dan ibunya, namun mirip dengan nenek atau pamannya, dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Kenapa demikian? Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan rahasianya dalam hadits-hadits beliau. Perhatikanlah!

‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata:

أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ تَغْتَسِلُ الْمَرْأَةُ إِذَا احْتَلَمَتْ وَأَبْصَرَتِ الْمَاءِ؟ فَقَالَ: نَعَمْ. فَقَالَتْ لَهَا عَائِشَةُ: تَرِبَتْ يَدَاكِ وَأَلَّتْ. قَالَتْ: فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعِيْهَا، وَهَلْ يَكُوْنُ الشَّبَهُ إِلاَّ مِنْ قِبَلِ ذَلِكَ، إِذَا عَلاَ مَاؤُهَا مَاءَ الرَّجُلِ أَشْبَهَ الْوَلَدُ أَخْوَالَهُ، وَإِذَا عَلاَ مَاءُ الرَّجُلِ مَاءَهَا أَشْبَهَ أَعْمَامَهُ  

Ada seorang wanita berkata kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah wanita harus mandi bila ia ihtilam dan melihat keluarnya air (mani)?” Rasulullah menjawab: “Ya.” ‘Aisyah berkata kepada si wanita yang bertanya: “Taribat yadaak”9 (semoga engkau terkena tombak).” Rasulullah berkata kepada ‘Aisyah10: “Biarkan dia (bertanya demikian), dari mana terjadi syabah (kemiripan anak dengan orang tuanya/ibunya) kecuali dari air mani itu. Apabila maninya mengungguli (‘uluw) mani laki-laki (suaminya) maka anaknya (yang lahir) serupa dengan akhwalnya (paman-paman/keluarga dari pihak ibu, -pent.). Sebaliknya bila mani laki-laki (suami) mengungguli mani istrinya maka anak yang lahir serupa dengan a’mamnya (paman-paman/keluarga dari pihak ayah).”11

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullaah menyatakan bahwa yang dimaukan dengan ‘uluw adalah dari sisi banyaknya, di mana mani yang lain tergenang di dalam mani yang banyak tersebut. (Fathul Bari)

Tsaubah radhiyallaahu ‘anhu maula Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkisah:

كُنْتُ قَائِمًا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، جَاءَ حِبْرٌ مِنْ أَحْبَارِ الْيَهُوْدِ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ! فَدَفَعْتُهُ دَفْعَةً كَادَ يُصْرَعُ مِنْهَا. فَقَالَ: لِمَ تَدْفَعُنِيْ؟ فَقُلْتُ: أَلاَ تَقُوْلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ! فَقَالَ الْيَهُوْدِيُّ: إِنَّمَا نَدْعُوْهُ بِاسْمِهِ الَّذِي سَمَّاهُ بِهِ أَهْلُهُ. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: إِنَّ اسْمِي مُحَمَّدٌ الَّذِيْ سَمَّانِي بِهِ أَهْلِي. قَالَ الْيَهُوْدِيُّ: جِئْتُ أَسْأَلُكَ. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: أَيَنْفَعُكَ شَيْءٌ إِنْ حَدَّثْتُكَ؟ قَالَ: أَسْمَعُ بِأُذُنَيَّ. فَنَكَتَ فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم بِعُوْدٍ مَعَهُ، فَقَالَ: سَلْ. فَقَالَ الْيَهُوْدِيُّ: أَيْنَ يَكُوْنُ النَّاسُ يَوْمَ تُبَدَّلُ الأَرْضُ غَيْرَ الأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: هُمْ فِي الظُّلْمَةِ دُوْنَ الْجِسْرِ. قَالَ: فَمَنْ أَوَّلُ النَّاسِ إِجَازَةً؟ قَالَ: فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِيْنَ. قَالَ الْيَهُوْدِيُّ: فَمَا تُحْفَتُهُمْ حِيْنَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: زِيَادَةُ كَبِدِ النُّوْنِ. قَالَ: فَمَا غِذَاؤُهُمْ عَلَى إِثْرِهَا؟ قَالَ: يُنْحَرُ لَهُمْ ثَوْرُ الْجَنَّةِ الَّذِيْ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ أَطْرَافِهَا. قَالَ: فَمَا شَرَابُهُمْ عَلَيْهِ؟ قَالَ: مِنْ عَيْنٍ فِيْهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. قَالَ: وَجِئْتُ أَسْأَلُكَ عَنْ شَيْءٍ لاَ يَعْلَمُهُ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ لأَرْضِ إِلاَّ نَبِيٌّ أَوْ رَجُلٌ أَوْ رَجُلاَنِ. قَالَ: يَنْفَعُكَ إِنْ حَدَّثْتُكَ؟ قَالَ: أَسْمَعُ بِأُذُنَيَّ. قَالَ: جِئْتُ أَسْأَلُكَ عَنِ الْوَلَدِ؟ قَالَ: مَاءُ الرَّجُلِ أَبْيَضُ وَمَاءُ الْمَرْأَةِ أَصْفَرُ، فَإِذَا اجْتَمَعَا فَعَلاَ مَنِيُّ الرَّجُلِ مَنِيَّ الْمَرْأَةِ أَذْكَرَا بِإِذْنِ اللهِ. وَإِذَا عَلاَ مَنِيُّ الْمَرْأَةِ مَنِيَّ الرَّجُلِ آنَثَا بِإِذْنِ اللهِ. قَالَ الْيَهُوْدِيُّ: لَقَدْ صَدَقْتَ، وَإِنَّكَ لَنَبِيٌّ، ثُمَّ انْصَرَفَ فَذَهَبَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ سَأَلَنِي هَذَا عَنِ الَّذِي سَأَلَنِي عَنْهُ، وَمَا لِي عِلْمٌ بِشَيْءٍ مِنْهُ، حَتَّى أَتَانِيَ اللهُ بِهِ

“Aku sedang berdiri di sisi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu datanglah seorang pendeta Yahudi. Ia berkata: ‘Assalamu ‘alaika, ya Muhammad!’ Aku mendorongnya dengan sekali dorongan yang hampir-hampir membuatnya tersungkur.

‘Kenapa engkau mendorongku?’ tanyanya.

‘Tidakkah seharusnya engkau mengatakan ya Rasulullah!’ jawabku.

Si Yahudi berkata: ‘Aku hanya memanggilnya dengan nama yang diberikan oleh keluarganya.’

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menengahi: ‘Sesungguhnya namaku adalah Muhammad yang merupakan nama pemberian keluargaku.’

Si Yahudi berakata: ‘Aku datang untuk bertanya kepadamu.’

‘Apakah bermanfaat bagimu sesuatu jika aku mengabarkannya kepadamu?’ tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Aku dengar dengan kedua telingaku,’ jawabnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menggaris-garis tanah dengan ranting yang ada pada beliau sembari berpikir. Lalu beliau berakata kepada si Yahudi: ‘Tanyalah.’

‘Di mana manusia pada hari digantinya bumi dengan bumi yang lain dan digantinya langit dengan langit yang lain?’ tanyanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Mereka berada dalam kegelapan di bawah jembatan (shirath).’

‘Manusia manakah yang pertama kali dapat melewati jembatan?’ pertanyaan kedua dari si Yahudi.

‘Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin,’ jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Si Yahudi bertanya lagi: ‘Apa sajian untuk mereka ketika mereka masuk ke dalam surga?’

‘Ujung/tepi- hati ikan12,’ jawab beliau shallâllahu ‘alaihi wa sallam.

‘Apa makanan mereka setelah itu?’ tanya si Yahudi.

‘Disembelihkan untuk mereka sapi (jantan) surga yang biasa makan dari tepi-tepi surga.’ jawab Nabi.

‘Lalu apa minuman mereka setelah hidangan itu?’ tanya si Yahudi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Dari mata air di dalam surga yang dinamakan Salsabil.’

‘Engkau benar,’ tukas si Yahudi, ia melanjutkan ucapannya: ‘Aku datang untuk bertanya kepadamu tentang sesuatu yang tidak ada seorang penduduk bumi pun yang mengetahuinya, kecuali seorang nabi atau satu dua orang laki-laki.’

‘Apakah bermanfaat bagimu jika aku mengabarkannya kepadamu?’ tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Aku dengar dengan kedua telingaku.’ jawabnya. Lalu ia bertanya: ‘Aku datang untuk bertanya kepadamu tentang anak?’

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: ‘Mani laki-laki berwarna putih sedangkan mani wanita berwarna kuning. Bila kedua mani itu berkumpul, lalu mani laki-laki mengungguli (‘uluw) mani wanita maka anak yang lahir laki-laki dengan izin Allah. Sebaliknya bila mani wanita mengungguli mani laki-laki maka anak yang lahir perempuan dengan izin Allah.’

Si Yahudi berkata: ‘Sungguh engkau benar. Engkau memang seorang nabi.’ Kemudian ia berpaling dan pergi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Sungguh orang itu bertanya kepadaku tentang perkara yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya sedikitpun, hingga Allah mendatangkan ilmu-Nya kepadaku.’”13

Dari hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha di atas, kita ketahui bahwa dari ‘uluw (dominasi) terjadi syabah (penyerupaan) dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan dari hadits Tsaubah radhiyallaahu ‘anhu disebutkan bahwa dari ‘uluw, anak yang lahir bisa laki-laki (dzukurah) atau bisa perempuan (unutsah). Sehingga bila dua hadits ini digabung kita dapat mengambil pemahaman bahwa dari ‘uluw terjadi syabah, dzukurah dan unutsah. Maknanya bila mani laki-laki lebih dominan dari mani wanita maka anak yang lahir laki-laki dan serupa dengan keluarga ayahnya. Sebaliknya bila mani wanita yang dominan, anak yang lahir perempuan dan serupa dengan keluarga ibunya.

Namun bila melihat kenyataan yang ada, ada anak laki-laki namun serupa dengan keluarga ibunya. Dan terkadang ada anak perempuan namun ia serupa dengan keluarga ayahnya. Karena ada kenyataan demikian, sebagian ulama melakukan takwil. Di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah, beliau mentakwil ‘uluw pada hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha dengan makna syabaq (mendahului)14 sedangkan ‘uluw dalam hadits Tsaubah radhiyallaahu ‘anhu sebagaimana dzahirnya (Fathul Bari, 7/341-342)

Beliau berkata: “Jadilah syabaq sebagai tanda anak yang lahir laki-laki atau perempuan, sedangkan ‘uluw sebagai tanda syabah, sehingga hilanglah isykal (kerumitan yang ada dalam memahami dua hadits ini dan melihat kenyataan yang ada, -pent.).” (Fathul Bari, 7/342)

Namun bila kita kembali pada dua hadits di atas, kita lihat dalam hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha disebutkan dengan ‘uluw, yang ditakwil oleh Al-Hafizh dengan Syabaq, terjadi syabah, sedangkan dalam hadits Tsaubah disebutkan dengan ‘uluw, dengan makna yang sesuai dzahirnya, terjadi tadzkir (anaknya laki-laki) atau ta’nits (anaknya perempuan). Berarti yang tepat berdasarkan takwil Al-Hafizh, syabaq yang disebutkan (sebagai takwil ‘uluw) dalam hadits ‘Aisyah merupakan tanda syabah sedangkan ‘uluw dalam hadits Tsaubah adalah tanda tadzkir dan ta’nits. (Jami’ Ahkamin Nisa’, 1/14)

Hal ini diperjelas lagi dengan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Sampai kabar kedatangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Madinah kepada ‘Abdullah bin Salam (seorang tokoh dan ‘alim dari Yahudi Bani Qainuqa’, -pent.), ia pun mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Aku akan bertanya kepadamu tentang tiga perkara, tidak ada yang mengetahuinya kecuali seorang Nabi. (Pertanyaan pertama,) apa awal tanda datangnya hari kiamat? (Kedua,) makanan apa yang pertama kali disantap penduduk surga? (Ketiga,) dari apa anak bisa serupa dengan ayahnya dan bisa serupa dengan keluarga ibunya?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jibril ‘alaihissalaam baru saja mengabarkan kepadaku tentang jawaban dari tiga pertanyaan tersebut.” ‘Abdullah berkata: “Itu adalah musuh Yahudi dari kalangan para malaikat.” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمَّا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ فَنَارٌ تَحْشُرُ النَّاسَ مِنَ الْمَشْرِقِ إِلَى الْمَغْرِبِ، وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ حُوْتٍ، وَأَمَّا الشَّبَهُ فِي الْوَلَدِ فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَشِيَ الْمَرْأَةَ فَسَبَقَهَا مَاؤُهُ كَانَ الشَّبَهُ لَهُ، وَإِذَا سَبَقَ مَاؤُهَا كَانَ الشَّبَهُ لَهَا

“Adapun awal tanda hari kiamat adalah munculnya api yang mengumpulkan manusia dari timur ke barat. Sedangkan makanan pertama yang disantap penduduk surga adalah ujung/tepi hati ikan. Adapun syabah (penyerupaan) pada anak, bila seorang lelaki menggauli seorang wanita lalu air mani si lelaki mendahului (syabaq) mani si wanita maka anak yang akan lahir serupa (terjadi syabah) dengan ayahnya. Sebaliknya bila mani si wanita yang mendahului (syabaq) maka anak yang akan lahir serupa dengan ibunya.”15

Pada akhirnya ‘Abdullah bin Salam masuk Islam, radhiyallahu ‘anhu, dengan menanggung cercaan dari Yahudi Bani Qainuqa’, kaumnya.

Wallaahu ta’ala a’lam bish-shawaab, wal ‘ilmu ‘indallaah.

Footnote:

1 Maknanya: Aku tidak mau menahan diri dari bertanya tentang perkara yang memang aku butuhkan. Ummu Sulaim radhiyallaahu ‘anha mengucapkan hal ini dalam rangka meminta udzur sebelum bertanya tentang persoalan yang ia butuhkan, di mana dalam perkara tersebut biasanya wanita malu untuk menanyakan dan menyebutkannya di hadapan lelaki. Menahan diri dari bertanya tentang perkara yang dibutuhkan bukanlah suatu kebaikan, bahkan kejelekan. Maka bagaimana hal itu dianggap sebagai malu, sementara malu adalah kebaikan seluruhnya dan malu tidaklah datang kecuali dengan kebaikan. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 2/215)

‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha pernah memuji wanita Anshar dengan mengatakan:

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ، لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّيْنِ

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk tafaqquh (mempelajari dan memahami) dalam agama.” (Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, kitab Al-‘Ilmi bab Al-Haya’ fil ‘Ilm, 1/301)

2 Dalam riwayat Al-Imam Ahmad disebutkan bahwa Ummu Sulaim radhiyallaahu ‘anha berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِذَا رَأَتِ الْمَرْأَةُ أَنَّ زَوْجَهَا يُجَامِعُهَا فِي الْمَنَامِ أَتَغْتَسِلُ؟

“Ya Rasulullah, apabila dalam mimpinya seorang wanita melihat suaminya menggaulinya, apakah ia harus mandi?”

3 HR. Al-Bukhari no. 282, kitab Al-Ghusl, bab Idza Ihtalamatil Mar’ah dan Muslim no. 313 kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusl alal Mar’ah bi Khurujil Mani minha

4 HR. At-Tirmidzi no. 113, kitab Ath-Thaharah, bab Fiman Yastaiqizh fa Yara Balalan wala Yadzkuru Ihtilaman. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullaah dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi.

5 HR. Muslim no. 708, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar’ati bikhurujil Mani minha.

6 Yaitu terasa nikmat dengan keluarnya, diikuti dengan melemahnya syahwat dan aromanya seperti aroma mani laki-laki.

7 HR. Muslim no. 708, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar’ati bikhurujil Mani minha

8 HR. Al-Bukhari no. 130, kitab Al-‘Ilmu, bab Al-Haya’u fil ‘Ilmi dan pada beberapa tempat lainnya dalam kitab Shahih-nya. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim no. 710, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar’ati bikhurujil Mani minha

9 Kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullaah, makna kalimat ini banyal diperselisihkan dan terbesar di kalangan salaf dan khalaf dari segala kelompok. Pendapat yang paling tepat dan paling kuat yang dipegangi para muhaqqiq tentang maknanya adalah kalimat ini asal maknanya: Engkau menjadi fakir. Orang Arab terbiasa menggunakannya namun tidak memaksudkan hakikat maknanya yang asli. Mereka menyatakan Taribat Yadaak, Qatalahullahu alangkah beraninya orang itu, Laa Umma Lahu, Laa Aba Laka, Tsakilathu Ummuh, Wailu Ummuhu dan lafazh-lafazh sejenis, mereka ucapkan ketika mengingkari sesuatu, mencerca, mencaci, membesarkan, menekankannya, atau untuk menyatakan keheranan/kekaguman. Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj, 2/212)

10 Dalam riwayat lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam balas mengatakan kepada ‘Aisyah: “Bahkan engkau, taribat yaminuk….” (HR. Muslim no. 707)

11 HR. Muslim no. 713

12 Bagian hati yang paling bagus, kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullaah (Al-Minhaj, 3/217). Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullaah: “Ziyadah adalah potongan tersendiri/terpisah yang tergantung pada hati, dan sangat lezat rasanya.” (Fathul Bari, 7/341)

13 HR. Muslim no. 714

14 Karena setiap yang sabaq berarti perkaranya tinggi, sehingga ‘uluw di sini adalah ‘uluw maknawi. (Fathul Bari, 7/341)

15  HR. Bukhari no. 3329, kitab Ahaditsul Anbiya’, bab Khalqi Adam wa Dzurriyatihi

(Dinukil dari Majalah Asy Syariah, Vol. II/No. 24/1427H/2006, judul: Dari Air yang Terpancar, kategori: Wanita dalam Sorotan, hal. 85-90, untuk http://almuslimah.co.nr)

About these ads

~ oleh Admin pada Juli 31, 2008.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: